Priyo Suprobo
Rektor ITS
Perjanjian perdagangan bebas ASEAN dan Cina yang membuka lembaran baru di tahun 2010 ini disikapi dengan konotasi pesimistis ibarat 'tsunami' oleh banyak pengamat. Diperkirakan ada 10 sektor yang berpotensi termarginalkan serta berdampak PHK sekitar tujuh juta tenaga kerja, karena lemahnya daya saing. Di antaranya industri permesinan, besi baja, alas kaki, makanan minuman, petrokimia, plastik, dan pertanian.
Lemahnya daya saing secara global seharusnya memacu semua stakeholder bisnis, yaitu pemerintah, pengusaha, dan masyarakat intelektual untuk duduk bersama menyelaraskan energi untuk bersaing. Tulisan berikut berhubungan dengan peran intelektual akademisi dan pendidikan dalam mensinergikan stakeholder untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi dampak 'tsunami' perdagangan bebas.
Daya saing dan pengaruhnya
Daya saing menjadi jargon populer di era globalisasi. Negara dengan daya saing tinggilah yang akan memenangkan persaingan bebas. Model penilaian daya saing suatu negara secara relatif terhadap negara lain diwujudkan dalam berbagai model, antara lain, Human Development Indexes (HDI), Global Competitiveness Indexes (GCI), dan sebagainya. Salah satu komponen daya saing merujuk pada model GCI berhubungan dengan kualitas pendidikan tinggi dan pelatihan (training). Kualitas pendidikan tinggi dan training dalam model GCI dikelompokkan sebagai faktor stimulus bagi penggerak efisiensi ekonomi suatu negara. Selain hal tersebut, maka kemampuan berinovasi dianggap sebagai faktor stimulus bagi penggerak ekonomi inovatif.
Dari model GCI tersebut, maka spirit dari faktor efisiensi dan inovasi tersebut sebenarnya adalah penerjemahan dari konsep Knowledge Based Economic (KBE). Sebagai negara dengan kapasitas sumber daya alam yang berlimpah, maka kita akan memperoleh hasil yang optimal apabila KBE mampu diaplikasikan dalam pengelolaan sumber daya alam tersebut.
Kemampuan untuk mensinergikan KBE untuk mengelola sumber daya alam melimpah, atau Resources Based Economic (RBE) akan meningkatkan daya saing. Efek domino dari peningkatan daya saing adalah penyerapan tenaga kerja, peningkatan devisa, dan penguatan pilar ekonomi maupun iptek yang inovatif sebagai komponen penting daya saing.
Spirit entrepreneur
Model daya saing tentunya membutuhkan keterpaduan strategi serta keselarasan program antar-stakeholder. Keterpaduan strategi bisa diperoleh bila road map nasional pengembangan antardepartemen fungsional saling connected dan alligned. Tentunya hal ini membutuhkan visi, kepemimpinan, dan good will dari ketiga komponen stakeholder Bussiness, Intelectual, Government (BIG) (Bisnis, Intelektual, dan Government). Selain itu, faktor kondusif yang harus ditumbuhkan di seluruh stakeholder adalah spirit entrepreneur.
Spirit entrepreneur tidaklah mutlak hanya untuk kalangan pebisnis, tetapi spirit entrepreneur yang basis utamanya adalah kreativitas dan inovasi sekarang ini telah diaplikasikan secara luas di segala bidang. Kita kenal istilah intrapreneur sebagai entrepreneur dari para profesional di perusahaan, sociopreneur adalah entrepreneur di bidang pemberdayaan masyarakat, hingga birokat entrepreneur adalah entrepreneur yang mengubah sistem kerja birokrasi menjadi automatikrasi.
Dalam rangka meningkatkan daya saing, maka baik pemerintah, bisnis, maupun intelektual (selanjutnya disingkat BIG : Bussiness, Intelectual, Government) perlu berbagi tugas. Pemerintah sebagai mediator kebijakan seharusnya menciptakan kebijakan yang secara socioengineering telah dikaji dampak positifnya bagi analisis persaingan bisnis nasional maupun tujuan strategis nasional. Sebagai contoh yang bisa dikemukakan adalah pilihan strategis Cina apakah mendukung industri padat karya atau industri teknologi tinggi. Menperindag Cina, Zhong San, mengatakan bahwa mengekspor satu unit pesawat Boeing 747 yang diproduksi Cina adalah lebih rendah manfaat ekonomisnya dibandingkan nilai ekspor yang sama dengan cara mengekspor 30 juta potong kaus buatan Cina.
Dari sisi bisnis, maka dibutuhkan pebisnis andal yang berjiwa 'nasionalis' dengan kultur agresif, pantang menyerah, serta jujur. Adapun dari sisi intelektual, maka pendidikan tinggi sebagai sumber utama penciptaan intelektual harus mampu membentuk karakter mahasiswanya sebagai manusia unggul dan berbudi luhur.
Mengingat bahwa daya saing berbasis pendidikan tinggi yang inovatif hanya bisa diperoleh dengan menggabungkan strategi bersaing dan disesuaikan dengan tujuan strategis nasional, maka pendidikan tinggi, baik yang berbasis iptek maupun sosial, sudah seharusnya membuka perspektifnya dengan cara mengajarkan ilmu manajemen, ilmu manajemen strategis, dan ilmu entrepreneurship sebagai bagian dari penciptaan suasana akademis 'berdaya saing'. Selain itu, ilmu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat perlu diberikan sebagai pelengkap dalam memahami tujuan strategis nasional yang berbasis kebutuhan lokal.
Kamis, 21 Januari 2010
Menghadapi FTA
Perdagangan Bebas
Perdagangan bebas ASEAN-Cina secara penuh mulai dilaksanakan pada Januari 2010. Berbagai pihak menyampaikan kekhawatirannya terhadap akibat yang ditimbulkan dari perdagangan bebas, yaitu terempasnya produk-produk dalam negeri melawan produk-produk Cina yang lebih murah dan banyak jenisnya. Produk-produk yang dihasilkan Indonesia adalah sejenis dengan produk-produk Cina.
Kalangan pengusaha, politisi, dan banyak pengamat meminta ditundanya pelaksanaan perdagangan bebas ini. Dari kalangan pemerintah sendiri, menteri Perindustrian mengusulkan penundaan pelaksanaan perdagangan bebas ini. Sementara itu, menteri Perdagangan menyatakan bahwa perdagangan bebas ini harus tetap dilaksanakan karena sudah menjadi kesepakatan. Penundaan dapat dilakukan pada pos tarif tertentu, itu pun harus dengan persetujuan negara ASEAN lain juga Cina.
Pelaksanaan perdagangan bebas juga akan menurunkan penerimaan dari bea cukai yang diperkirakan mencapai Rp 15 triliun. Sebelum pelaksanaan perdagangan bebas dengan Cina sekalipun, aparat bea cukai cukup kewalahan dalam mengatasi penyelundupan barang-barang dari Cina.
Bagi konsumen, perdagangan bebas memberikan keuntungan yang besar karena harga barang menjadi murah dan lebih banyak pilihan. Sebelum perdagangan bebas dengan Cina, produk-produk Cina telah banyak kita dapatkan baik secara legal maupun ilegal dalam berbagai jenis dan dipasarkan di berbagai tempat. Konsumen pada umumnya menyukai produk Cina ini karena murah harganya. Apalagi, banyak produk Cina yang merupakan pemalsuan dari barang-barang dengan merek terkenal dengan harga yang sangat murah.
Cina mempunyai kemampuan produksi yang sangat besar. Selain upah pekerja yang relatif murah, Pemerintah Cina memberikan fasilitas yang besar baik dalam bentuk dukungan infrastruktur yang memadai maupun bunga kredit yang rendah. Pemerintah Cina membangun infrastruktur besar-besaran yang membuat produksi dan distribusi barang sangat terdukung. Bank-bank yang dimiliki pemerintah juga memberikan kredit dengan bunga yang sangat rendah. Selain itu, mata uang yuan dibuat relatif lemah terhadap dolar sehingga mendorong daya saing produk-produk Cina di pasar luar negeri.
Keadaan di Indonesia hampir merupakan kebalikannya. Para pengusaha di industri manufaktur menghadapi permasalahan serius berupa buruknya infrastruktur. Pasokan listrik tidak memadai. Sarana jalan dan pelabuhan tidak mendukung distribusi yang efisien. Bunga pinjaman bank juga tinggi. Permasalahan ketenagakerjaan terus menghambat kegiatan produksi. Tambahan lagi, masih banyaknya pungutan yang menambah biaya tinggi. Dalam keadaan seperti ini, sangat sulit bagi produk Indonesia untuk bersaing dengan produk Cina bahkan di pasar dalam negeri. Sekarang ini defisit perdagangan Indonesia dengan Cina mencapai sekitar 3 miliar dolar AS dan kemungkinan akan meningkat lagi.
Namun, kalau kita menganalisis lebih jauh lagi. Adalah tidak mungkin seluruh kegiatan produksi terpusat di Cina. Upah pekerja di Cina terus mengalami peningkatan dan lebih tinggi dari Indonesia. Importir dari banyak negara juga tidak mau sepenuhnya tergantung pada Cina karena risikonya terlalu tinggi. Cina juga belum kompetitif dalam produk-produk dengan kualitas dan teknologi yang lebih tinggi. Tambahan lagi, perusahaan Cina juga berupaya untuk melakukan ekspansi kegiatan produksi di luar negeri.
Investasi di Cina sudah sangat besar dengan PMA melebihi 50 miliar dolar AS. Cadangan devisanya juga demikian besar mencapai lebih dari 2 triliun dolar AS sebagai hasil dari surplus perdagangan yang sangat besar. Jika kecenderungan ini terus berlangsung, mata uang yuan akan terapresiasi dan harga-harga aset di Cina akan menjadi mahal untuk kemudian menyebabkan besarnya gelembung yang akan membahayakan ekonomi.
Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN dan nomor tiga di Asia setelah Cina dan India. Perekonomian Indonesia juga masuk ke dalam 20 besar dunia. Selain pasar yang besar, Indonesia juga kaya dengan sumber daya alam. Karena itu, minat untuk melakukan investasi di Indonesia sangatlah besar, termasuk dari Cina. Jika kita dapat memfasilitasinya dengan lebih baik, kegiatan produksi dapat dilakukan di Indonesia baik melalui patungan maupun sepenuhnya perusahaan asing. Karena itu, sebaiknya perusahaan Indonesia melakukan sinergi untuk memanfaatkan besarnya pasar ASEAN-Cina. Penundaan perdagangan bebas sifatnya sementara. Cepat atau lambat, legal atau melalui penyelundupan, barang-barang Cina akan masuk ke Indonesia secara besar-besaran.
Tentu saja kita harus melindungi produsen dalam negeri, dengan sedapat mungkin menunda pelaksanaan perdagangan bebas. Kita juga harus meningkatkan daya saing mereka dengan memperbaiki infrastruktur, dan akses pada modal yang lebih murah. Langkah-langkah untuk mencegah tidak fair-nya persaingan juga harus dilakukan. Kriteria nontarif harus ditentukan Indonesia yang menguntungkan produsen dalam negeri. Namun, kita juga harus realistis dengan perkembangan di sekitar kita. Kemunculan Cina yang sekarang ini adalah perekonomian terbesar nomor tiga dan dalam beberapa dekade ke depan, akan menjadi perekonomian terbesar di dunia tidaklah dapat dibendung. Dalam hal tertentu kita kalah dalam persaingan dengan Cina, namun banyak yang dapat kita lakukan bersama untuk saling menguntungkan.
Perkembangan Cina yang diikuti oleh India merupakan fenomena terjadinya pergeseran kekuatan ekonomi dunia. Indonesia sebagai negara terbesar ketiga di Asia banyak yang memperkirakan akan mengikuti perkembangan Cina dan India, jika kebijakan dan langkah-langkah yang dilakukan dunia usaha sesuai. Dengan kata lain, perkembangan Cina akan memberikan kesempatan lebih besar bagi Indonesia untuk berkembang. Sejarah memperlihatkan bahwa perkembangan Cina dan India sejalan dengan perkembangan Nusantara.
Asia mengalami keterbelakangan karena kolonialisme Barat. Bahkan, dalam hadis dinyatakan ''tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.'' Perkembangan Cina juga akan membawa perkembangan negara-negara berkembang yang telah membangun kerja sama dengan Cina, termasuk negara-negara Islam, seperti Arab Saudi, UEA, dan
Jumat, 15 Januari 2010
Dilema Perbankan Syariah
Ahmad Ifham Sholihin - suaraPembaca
Berdasarkan Statistik Perbankan dan Perbankan Syariah Indonesia yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia aset Bank Syariah (termasuk Bank Pembiayaan Rakyat Syariah - BPRS) pada akhir tahun 2005 mencapai Rp 21,5 triliun, dan saat ini (data September 2009) mencapai Rp 60 triliun sehingga ada kenaikan Rp 38,5 triliun. Bandingkan dengan aset bank konvensional pada akhir tahun 2005 sebesar Rp 1,469,8 triliun, melesat tajam menjadi Rp 2,388,6 triliun sehingga ada kenaikan sekitar Rp 919 triliun. Jelas, bank konvensional mengalami peningkatan aset 24 kali lipat dibandingkan dengan bank syariah.
Di samping itu penerapan manajemen risiko yang kurang optimal menyebabkan prestasi buruk dalam hal Pembiayaan Bermasalah Bank Syariah (kategori Kurang Lancar – Macet) yang mencapai 5,72% (di atas batas maksimal yang ditentukan BI yaitu 5%).
Pembiayaan Bermasalah BPRS lebih parah, yaitu 8,2%. Dalam hal penambahan jaringan kantor Bank Syariah (termasuk BPRS) sebenarnya cukup agresif dengan menambah 594 jaringan (selama tahun 2005 – September 2009). Jumlah ini belum termasuk lebih dari 1.770 jaringan bank konvensional yang dijadikan sebagai Office Channeling serta kantor pos yang juga dilibatkan sebagai jaringan layanan bank syariah. Bandingkan dengan bank konvensional yang hanya menambah 444 jaringan dalam kurun waktu yang sama. Jumlah ATM bank syariah juga cukup memadai karena bank syariah menggunakan jaringan ATM bank konvensional.
Data tersebut menunjukkan adanya infrastruktur yang cukup memadai bagi bank syariah untuk menggarap pasar perbankan yang ada. Estimasi market size pasar perbankan menurut KARIM Business Consulting (tahun 2003) adalah Sharia Loyalist (1%), Conventional Loyalist (25%), serta Floating Mass (74%). Jika bank konvensional tidak mungkin menggarap Sharia Loyalist yang mutlak mengharamkan bunga bank justru bank syariah memiliki peluang untuk bisa menggarap semua pasar perbankan termasuk Floating Mass sebagai pasar mengambang dan Conventional Loyalist yang mementingkan return kompetitif serta layanan prima.
Tantangan dan Peluang
Konsep citra dan positioning bank syariah adalah lebih dari sekedar bank dengan prinsip keadilan, kejujuran, transparansi, serta bebas dari riba, gharar (penipuan), maysir (spekulasi), dan hal-hal lain yang tidak sesuai syariah. Namun, mengapa laju bank syariah seakan tersendat.
Sebagian masyarakat masih memiliki persepsi bahwa bank syariah dan bank konvensional hanya beda istilah dan akad. Sedangkan prakteknya kurang lebih sama saja. Inilah salah satu faktor penyebab masyarakat (yang heterogen dan crowded) menjadi ragu dengan bank syariah. Apalagi masyarakat terbiasa menggunakan sistem perbankan konvensional yang masih unggul dari sisi return, kemudahan, teknologi, akses, jaringan, dan layanan prima.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut bisa terpenuhi jika didukung oleh tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) dan Teknologi Informasi (TI) yang memadai. Muliaman D Hadad, Deputi Gubernur BI dan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), menyatakan bahwa di Indonesia sudah ada lebih dari 100 perguruan tinggi yang membuka jurusan atau studi perbankan syariah.
Jumlah ini belum termasuk pesantren dan madrasah. Sebuah potensi besar untuk memenuhi kebutuhan SDM bank syariah yang mencapai 42 ribu orang dalam waktu 5 tahun ke depan. Tentu bukan hanya SDM sekedarnya karena mereka harus paham konsep, praktek, sekaligus patuh terhadap aturan perbankan syariah.
Di samping itu saat ini juga sudah tersedia aplikasi Core Banking System (CBS) bank syariah, baik PC based, platform AS/400, maupun web based yang bisa mengakomodir semua kebutuhan transaksi perbankan syariah dalam jumlah jaringan yang banyak, akses mudah, proses cepat, teknologi canggih, user friendly, serta kemudahan-kemudahan yang lain. Kurangnya dana ditengarai menjadi kendala utama bank syariah dalam menyediakan infrastruktur TI yang canggih.
Belum lagi faktor Marketing Public Relations (PR) bank syariah yang seakan tidak ada aktivitas. Biaya promosi yang dikeluarkan bank syariah juga jauh di bawah bank konvensional. Coba bandingkan biaya promosi total bank syariah tahun 2007 sebesar Rp 91 miliar. Ternyata lebih besar biaya promosi satu produk BRI Britama yang mencapai lebih dari Rp 96 miliar. Dan, ternyata pada periode Januari – September 2009 ini seluruh bank syariah pun hanya mampu mengeluarkan biaya promosi sebesar Rp 92 miliar.
Rasanya memang tidak adil jika head to head membandingkan antara kemampuan promosi bank syariah dengan bank konvensional yang notabene sudah mapan dan memiliki dana cukup untuk promosi. Namun, bank syariah bisa dengan cerdas mengoptimalkan fungsi kotak ajaib (televisi) dengan berbagai strategi efektif namun efisien.
Televisi masih menjadi primadona masyarakat luas untuk menjadi sumber informasi, hiburan, sekaligus "teman hidup" yang bisa masuk ke ruang publik maupun pribadi.Publikasi melalui media televisi ini bisa dilakukan secara efektif, efisien, bahkan gratis jika penggiat bank syariah mampu dengan cermat dan kreatif melihat peluang.
Bank syariah bisa melakukan berbagai kegiatan yang bisa menjadi "konsumsi kamera televisi". Seperti kegiatan-kegiatan yang melibatkan publik figur, hot issue, atau trend. Di sisi lain bank syariah patut merasa beruntung karena memperoleh dukungan dari berbagai komponen.
Presiden, DPR, Departemen Keuangan, Bank Indonesia, DSN MUI, serta dukungan dari berbagai pihak terus mengalir seiring pertumbuhan dan kebutuhan industri perbankan syariah. Permisivitas terhadap pajak murabahah dan sukuk juga merupakan dukungan yang luar biasa dari pemerintah.
Dukungan-dukungan ini harus diikuti dengan keseriusan seluruh penggiat bank syariah untuk melakukan langkah konkret menyuguhkan sebuah produk atau jasa atau layanan bank yang memihak pada kebutuhan dan keinginan masyarakat.
Fatwa MUI tentang haramnya bunga bank juga merupakan support fenomenal dalam hingar bingar tumbuh kembang bank syariah. Namun, fatwa ini akan menjadi bumerang jika tidak diikuti dengan kekuatan bank syariah dalam menggerakkan segenap public figure panutan masyarakat (yang mayoritas muslim) untuk menggunakannya.
Faktor psiko sosio kultural masyarakat Indonesia yang majemuk ini masih bergantung pada teladan. Bunga bank konvensional diharamkan. Namun, jika berbagai komponen seperti ormas Islam, partai Islam, ulama, dan komponen panutan lain tidak memberikan teladan, masyarakat yang mayoritas muslim ini akan semakin tidak yakin dengan nilai lebih bank syariah. Akhirnya, bank syariah hanya akan dianggap sebagai sekedar alternatif. Bukan solusi.
Ahmad Ifham Sholihin,
Sharia Business Consultant – PT Anabatic Teknologi Indonesia
Hikmah Pembangunan Masa Lalu untuk Masa Kini
Jumat, 15 Januari 2010 | 03:01 WIB
Emil Salim
Hari Kamis (14/1), Penerbit Buku Kompas meluncurkan buku Pengalaman Pembangunan Indonesia- Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjojo Nitisastro dari tahun 1963 hingga 1996 menggambarkan pengalamannya dalam membangun Indonesia di masa Orde Baru. Jika masa ini sudah lewat, timbul pertanyaan masih relevankah isi buku ini bagi generasi masa kini dan nanti? Hikmah apakah yang bisa ditarik dari buku ini?
Buku ini ditulis oleh seorang profesor ekonomi sehingga segera tampak betapa inner logic ekonomi memengaruhi cara pandang dan berpikir sang penulis. Ilmu ekonomi bertumpu pada logika bahwa harga keseimbangan terbentuk bila penawaran bertemu dengan permintaan. Sifat pasar bisa berbeda, serbaliberal, monopoli, berencana atau lain- lain. Namun, akhirnya yang dituju adalah harga keseimbangan antara penawaran dan permintaan.
Ketika pada tahun 1972 meledak krisis pangan yang parah dan harga melonjak tinggi, terdapat laporan produksi beras yang cukup tinggi dari pejabat pertanian daerah, sedangkan Biro Pusat Statistik mengungkapkan produksi beras lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya. Selaku Ketua Bappenas, Widjojo Nitisastro menginstruksikan agar yang dijadikan patokan adalah ”harga beras pada musim panen” dan bukan perkiraan jumlah produksi yang simpang siur. Inner logic ekonomi berkata, pada musim panen pasokan beras naik sehingga harga beras mestinya tidak naik. Bila ada kenaikan, produksi pada musim panen lebih rendah dengan sebelumnya.
Pelajaran kedua yang bisa ditarik adalah penerapan asas efisiensi yang secara sederhana terungkap dalam lima pertanyaan Menteri Sekretaris Negara Sudharmono ketika berhadapan dengan tuntutan departemen mengajukan anggaran proyek, yakni: pertama ”apakah perlu membangun proyek itu?” Kalau ini dijawab positif, pertanyaan berikut adalah ”apakah perlu sebesar itu ukuran proyeknya?” Kemudian, menyusul pertanyaan ”apa perlu sekarang, apa betul urgen mendesak?” Lalu ”apakah biaya bisa diturunkan?” Akhirnya masih menyusul permintaan untuk mengajukan studi kelayakan untuk dikaji oleh para ahli.
Tersimpul dalam pertanyaan sederhana Sudharmono ini prinsip efisiensi kegunaan, pertimbangan ukuran besar, faktor urgensi waktu dan faktor biaya. Untuk dicek dengan studi kelayakan proyek. Setelah terjawab ini semua barulah proyek ini bisa lolos.
Hikmah ketiga, diterapkannya dalil ”berpegang teguh pada sasaran yang ditetapkan” dalam bahasa manajemen maintenance of the objectives. Ketika pada Januari 1986 Presiden Soeharto menyatakan tidak akan mendevaluasi rupiah, maka komitmen pemerintah ini harus dilaksanakan. Akan tetapi, harga minyak bumi kemudian jatuh sehingga penerimaan devisa berkurang dengan tajam dan nilai tukar rupiah merosot turun. Dan orang menukar rupiah yang overvalued dengan mata uang asing.
Tujuan kebijakan pembangunan adalah mengusahakan stabilisasi ekonomi dan ini memerlukan nilai tukar yang stabil pada tingkat keseimbangan yang bisa dipikul anggaran. Jika nilai tukar rupiah overvalued, maka devisa akan dikuras sehingga membahayakan stabilitas rupiah. Maka, demi maintenance of the objective mencapai ekonomi stabil, Presiden ”menarik janjinya” dan mendevaluasi rupiah pada tahun 1986.
Pelajaran keempat adalah semangat kerja habis-habisan, all out to get things done. Untuk mencapai sasaran swasembada pangan, segala keperluan petani harus sampai ke tangan di lapangan. Bibit unggul PB-5, pupuk, dan saluran irigasi harus tersedia pada waktunya. Dan peranan Bulog membeli padi pada waktu harga turun dan menjual pada waktu harga naik. Jalan kabupaten, jalan provinsi, dan jalan nasional direhabilitasi untuk kelancaran arus pasokan input ke petani dan pembelian output dari petani. Untuk potong lajur birokrasi, jalan pintas diambil untuk menurunkan anggaran langsung dari pusat ke lapangan dengan pola ”Proyek Inpres, Instruksi Presiden”. Irigasi sekunder dan primer perlu semen, maka pabrik semen dibangun. Pupuk dibutuhkan banyak, maka pabrik pupuk dibangun. Tak banyak seminar di masa itu, pertemuan lebih banyak dengan petani di tingkat desa. All out to get things done adalah suasana yang hidup mengejar sasaran swasembada pangan yang dicapai pada tahun 1984.
Pelajaran kelima adalah posisi seorang intelektual yang dibedakan dengan ”pekerja intelek” (intellectual worker). Seorang ”pekerja intelek” adalah seorang ”tukang intelek” yang ”menjual otaknya” kepada pembeli tanpa memedulikan ”untuk apa hasil otaknya dipakai”. Seorang ”pekerja intelek” semata-mata
Berbeda halnya dengan seorang ”intelektual” yang pada asasnya adalah seorang ”pengkritik sosial” (social critic) dan bekerja mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah untuk mencapai masyarakat yang lebih baik, lebih berperikemanusiaan, dan lebih rasional. Dengan demikian, intelektual itu tumbuh menjadi hati nurani masyarakat, the conscience of the society, yang mendambakan perubahan ke arah perbaikan untuk kemaslahatan masyarakat.
Demikianlah lima hikmah yang bisa dipetik dari buku yang ditulis oleh Widjojo Nitisastro yang telah mencurahkan bagian besar hidupnya bagi pembangunan Indonesia.
Semangat zaman telah berubah kini. Tantangan pembangunan masa kini dan nanti telah berbeda. Sungguhpun diperlukan pola pembangunan yang berlainan agar lebih sesuai dengan tuntutan masa, tetapi kelima-lima pokok hikmah di atas tetap bisa digunakan untuk mengisi tuntutan masa baru dan mengisyaratkan tetap perlunya kerja pembangunan dengan inner logic ekonomi, prinsip efisiensi, maintenance of the objectives, all out to get things done, dan sikap jiwa seorang intelektual pembawa hati nurani masyarakat.
Sabtu, 09 Januari 2010
Kredit Harus Tumbuh 22%
Kejar Pertumbuhan Ekonomi 5,5%
SP/YC Kurniantoro - Sigit Pramono
[JAKARTA] Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5%-6% dibutuhkan tingkat pertumbuhan kredit 22%-24%. Dengan kondisi perbankan nasional yang sehat, yaitu rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 17% dan rasio kredit terhadap pinjaman (LDR) 73%, ruang untuk perbankan mendukung pertumbuhan kredit cukup luas.
Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menuturkan, permasalahan rendahnya pertumbuhan kredit tahun 2009 tidak sepenuhnya terletak pada tingginya suku bunga.
"Bunga kredit perbankan saat ini terendah sepanjang sejarah Indonesia, bunga kredit bank banyak yang di bawah 10%. Persoalannya, faktor-faktor biaya nonbunga kredit juga tinggi karena inefisiensi di bidang transportasi dan energi, makanya perbankan ditekan untuk menurun-kan suku bunga," katanya di Jakarta, Kamis (7/1).
Menurutnya, kurang tepat bila BI mengeluarkan disinsentif dan insentif mengenai kebijakan giro wajib minimum dikaitkan dengan LDR. "Kalau giro wajib minimum dengan LDR itu berlawanan, yang satu gas dan yang satu lagi rem. Tapi, kita akan coba karena tidak semua bank punya LDR tinggi, bergantung pada porsi bank masing-masing, ada yang diuntungkan, ada juga yang dirugikan," ujarnya.
Ditegaskan, faktor bunga bukan faktor penentu, sebab banyak hal yang harus dibenahi dalam menunbuhkan perekonomian, mulai dari infrastruktur sampai listrik, termasuk politik. Apabila tidak ada keduanya, investor tidak akan melakukan investasi. Akibatnya, kredit tidak akan diambil.
Tidak Manfaatkan
Tahun 2009 jumlah komitmen kredit perbankan yang tidak terserap (undisbursed) berkisar Rp 270 triliun-280 triliun. Jumlah yang cukup besar itu menunjukkan bahwa debitor tidak memanfaatkan dana kredit yang disediakan bank.
Sementara itu, ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, permintaan kredit tahun 2010 akan naik karena dunia usaha harus memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi dunia dengan melakukan ekspansi lebih besar.
"Kecenderungan suku bunga global naik sebagai respon perbaikan ekonom. Agar aset dalam rupiah tetap menarik dan tidak terjadi capital flight, maka suku bunga domestik juga harus dinaikkan," katanya.
Akan tetapi, kenaikan suku bunga baru akan terjadi pada triwulan II, BI Rate akan naik menuju 6,25% pada semester I dan 7% pada akhir 2010. Dengan kenaikan BI Rate tersebut, otomatis bunga perbankan akan terdorong naik.
Wadirut BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, perbankan akan berupaya menurunkan suku bunga kredit pada tahun ini, sesuai dengan pergerakan biaya dana, sehingga posisi net interest margin diperkirakan sedikit lebih rendah dibanding tahun 2009.
Dia menilai, margin bunga bersih perbankan akan sedikit turun karena suku bunga kredit yang masih terus ditekan sesuai dengan arah BI Rate yang masih rendah.
Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi net interest margin perbankan pada Oktober 2009 memang turun tipis menjadi 5,55% dari setahun sebelumnya 5,69%. Namun, Jahja menyatakan, perbankan sulit bergerak apabila akan diatur perolehan margin bunga bersihnya, yang seharusnya dapat lebih elastis sesuai dengan perkembangan pasar.
"Justru dalam situasi ekonomi yang belum normal, perbankan membutuhkan sumber pendapatan, yang pada akhirnya bisa menjadi sumber utama untuk menopang penguatan modal," katanya. [D-11]
Indonesia dan Era Chindonesia
THE GLOBAL NEXUS
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan
Christianto Wibisono
Restorasi Indonesia memulihkan kejayaan Indonesia sebagai Civilization State dengan daya mampu setara Borobudur abad ke-8 kongruen dengan keseimbangan baru kekuatan dunia abad XXI, era Pax Consortis G20. Restorasi hanya bisa dilakukan melalui rekonsiliasi, memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Serta merubah politik yang berciri zero sum game, kemunafikan dan kekerdilan menuju jiwa negarawan yang magnanimous. Khusus mengenai Bank Century dan kemelut China ASEAN Free Trade Agreement (CA FTA), kami prihatin, jajaran elite kita hanya asyik ingin saling menjatuhkan lawan politik. Tidak menangkap esensi permasalahan yang jauh lebih besar.
Pemerintah membentuk Tim Pemulihan Aset Publik Bank Century yang ibarat spesialis ber pisau laser untuk segera menuntaskan kasus Bank Century serta Tim Pemulihan Assertivenes Publik CA FTA dengan tugas khusus memulihkan rasa percaya diri masyarakat menghadapi pasar terbuka CA FTA. Tim Satgas Pemberantasan Mafia Hukum seyogyanya melaksanakan usulan Wantimpres tentang Rekonstruksi Moral dalam melembagakan, mengkoordinasikan dan mensinergikan pemberantasan korupsi secara tuntas, lugas dan lintas institusional.
Pemerintah membentuk Tim Pemulihan Aset Publik (TPAP) Bank Century:
a. Melakukan diplomasi ke pemerintah Arab Saudi , Inggris dan Singapura untuk deportasi, konfiskasi dan repatriasi seluruh asset ex Bank Century yang dijarah oleh pemegang saham warga negara Arab, Hesham Al Waraq, warga negara Inggris kelahiran Pakistan, Rafat Ali Rivki dan Dewi Tantular, WNI yang terpantau berada di Singapura,.
b. Memberdayakan Bank Mutiara (nama baru Bank Century) sebagai domain publik agar berkembang menjadi bank khusus pembiayaan infrastruktur, niaga karbon atau UMKM
TPAP Bank Century menjadi negosiator promotor untuk mengundang investor memenuhi pola divestasi penyertaan modal LPS.
c. menyiapkan draft RUU JPSK menangani kondisi darurat keuangan sistemik untuk memberi kepastian hukum wewenang darurat menghindari isu serupa dimasa datang.
TPAP CA FTA dengan misi mengamankan posisi RI dalam CA FTA bertugas mengidentifikasi mana sektor industri, bisnis dan jasa serta komoditas spesifik yang memerlukan proteksi tarif (5-10%).
Hingga 2007 neraca ekspor RI ke RRT masih positif. Tahun 2005 ekspor US$ 6,7 miliar dan impor US $ 5,84 miliar, 2006: 8,3 vs 6,64 dan 2007 9,7 vs 8,56. Baru tahun 2008 ekspor RI 11,6, impor dari RRT 15,25 dan untuk 8 bulan 2009 ekspor kita hanya US$ 6,9 miliar sedang impor sudah US$ 8,65 miliar. Sebanyak 2400 perusahaan kecil anggota API mengeluh untuk survive, sedang kelompok 300 perusahaan besar harus siap bersaing. Sementara itu, Ketua API Jawa Barat Ade Sudradjad mengatakan, rata-rata harga tekstil RRT 10% lebih murah.
Dilihat Sebagai Peluang
Kita harus melihat CA FTA juga sebagai peluang, bukan melulu ancaman. Menyedihkan dan memprihatinkan jika Indonesia yang sejak 1970-an sudah mendahului Tiongkok membangun kekuatan ekonomi nasional, sekarang kurang percaya diri. Indonesia sedang menghadapi pergolakan internal yang menggerogoti rasa percaya diri karena kultur elite yang tidak ksatria untuk mengakui keunggulan lawan politik sebagai negarawan. Kami mengikuti dengan cermat perkembangan tanah air yang dirundung simptom hypochondria (rasa berpenyakitan, impoten dalam spirit hidup) dan kurang assertive serta tidak ksatria (senang melihat orang susah, susah melihat orang senang).
Kami menyatakan, bangsa Indonesia harus segera mawas diri, bertobat dan mengikrarkan semangat melakukan restorasi setara dengan Meiji. Bangsa Indonesia harus bisa bangkit setara dengan proyeksi pakar sebagai satu dari Troika Asia Chindonesia (China India dan Indonesia). Momentum wafatnya Gus Dur dan Frans Seda, kiranya memulihkan rasa percaya diri, harga diri dan semangat juang para pendiri republik kepada elite yang sekarang dilanda virus (BCGC) Bank Century Gurita Cikeas yang amat ganas bagaikan virus "flu babi" bisa mematikan demokrasi RI ditangan "partai siluman ochlocracy". Para pendiri berseru agar elite melakukan rekonsiliasi, rekonstruksi dan restorasi agar RI bisa bertransformasi sebagai kekuatan setara troika baru Asia Chindonesia. Tidak ada waktu untuk terus menguras energi saling menjatuhkan lawan politik secara vulgar dengan pola Ken Arok satu sama lain. Indonesia harus bangkit.
Global Nexus Institute akan memfasiliasi elite governance dan corporate, yang merupakan ujung tombak dan kekuatan Indonesia Incorporated untuk bersiap diri. Menyongsong era CA FTA dengan assertiveness, rasa percaya diri, bersemangat competitiveness yang tinggi dengan membekali diri dengan informasi dan inspirasi profesional dari sumber yang relevan. The 2010 CEO Summit 26 Januari 2010 merupakan summit terbatas untuk CEO yang peduli dan terkait dengan bisnis kebangkitan Indonesia Inc.
Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional
Selasa, 29 Desember 2009
Ekonomi India Berpotensi Terkuat di Dunia
Abun Sanda
Catatan Ekonomi
Ekonomi India mampu tumbuh lebih dari 6 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia yang tumbuh 4,4 persen. Hal yang mengejutkan, dengan produk domestik bruto yang masih 1,3 triliun dollar AS (nomor 12 di dunia, bandingkan dengan Amerika Serikat sebesar 14,8 triliun dollar AS), India sudah berani mencanangkan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia tahun 2025.
Ambisi ini tentu bukan main-main, sebab dengan demikian 15 tahun mendatang India akan menggusur raksasa ekonomi dunia selama lebih dari 10 abad, Amerika Serikat. Ia juga akan meloncati China, negara yang mampu secara konsisten meraih pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen. China bahkan sebentar lagi menggeser Jepang sebagai negara kedua terbesar skala ekonominya di dunia. India akan menggeser pula Jepang, Jerman, dan Inggris, yang demikian besar skala ekonominya. Ambisi India tentu sah-sah saja sepanjang dilakukan dengan penahapan yang sangat teratur dan kerja keras.
Apakah negara-negara raksasa ekonomi dunia terkejut dengan tekad India? Sampai hari ini tidak ada satu negara pun bereaksi atas tekad besar itu. Tidak ada yang memuji, tiada pula yang mencemooh. Tetapi, kira-kira dunia bisa membaca bahwa tidaklah terlampau gampang untuk memenuhi ambisi itu.
Dunia bisa becermin pada China yang meraih kinerja gilang-gemilang. Sejak ”bapak pembaru ekonomi China” Deng Xiaoping mencanangkan satu negara dua sistem pada tahun 1978, negeri tirai bambu itu selalu meraih prestasi menakjubkan. Ekonominya senantiasa gemerlap, dan berkilau-kilau.
Bayangkan saja, AS hanya mampu tumbuh 3 persen, tetapi China mampu tumbuh 13 persen sampai 18 persen. Dengan pergerakan sebesar itu, dan konsisten selama 30 tahun, China hanya mampu bertengger di urutan ketiga dunia, di bawah AS dan Jepang.
Bagaimana dengan India yang kini masih sibuk mengurus 60 persen penduduknya yang miskin dan di bawah garis kemiskinan? Dengan angka 60 persen, berarti ada 720 juta rakyatnya yang hidup di bawah kriteria pas-pasan. Apa mudah mengangkat mereka dari jurang dalam? Jika India hendak menjadi raksasa ekonomi 15 tahun mendatang, itu berarti negara itu harus meraih pertumbuhan ekonomi 30 persen per tahun.
Cermin lain dapat diperoleh dari Jerman. Negara dengan kekuatan ekonomi keempat setelah AS, Jepang, dan China ini mampu menjadi kekuatan yang diperhitungkan karena dikenal sebagai bangsa yang cerdas, terampil, berwawasan global, menguasai semua teknologi tinggi, dan warganya mempunyai kebanggaan khas Jerman. Apa yang tidak bisa dilakukan Jerman? Mobil terbaik dunia dari Jerman. Mesin perang, obat-obatan, barang-barang berkualitas yang merajai pasar dunia juga buatan Jerman. Padahal, negara ini pernah hancur akibat perang. Jerman bisa bangkit dari keping-keping yang tercabik. Dan 15 tahun setelah Perang Dunia II, Jerman sudah menjadi kekuatan ekonomi dunia yang sangat dominan.
Akan tetapi, Jerman tidak bisa disamakan dengan India. Jerman sudah hebat sebagai sebuah negara ketika fisik negaranya hancur, dan tatkala reputasinya sebagai bangsa runtuh. Karena sebelumnya mereka sudah digdaya, sumber daya manusianya kelas satu, infrastrukturnya keren, dengan mudah mereka mengubah keadaan. Menjadi bangsa sangat terpandang di dunia. Apa yang dilakukan Jerman juga dilakukan negara yang kalah perang pada Perang Dunia II, Jepang. Masalahnya, apakah India mampu mengikuti jejak China, Jerman, dan Jepang? Potensinya tentu banyak, tetapi apa yang diandalkan India?
Negeri yang pernah melahirkan orang hebat seperti Mahatma Gandhi dan Rabindranath Tagore ini bukan negara dengan sumber daya ekonomi luar biasa. India bukan Arab Saudi yang sangat kaya ladang minyak. Menggali tanah sedalam satu meter saja, minyak bumi sudah muncrat keluar. India pun bukan AS yang mempunyai apa saja: minyak bumi, batu bara, besi, uranium, emas, perak, lahan subur, sumber daya manusia yang sangat berkualitas, pasar domestik yang dahsyat, dan sebagainya. Pun, India bukan Spanyol, bukan Italia, bukan Yunani, bukan Mesir, bukan China, bukan pula Jepang, bukan juga Rusia yang mempunyai amat banyak peninggalan berusia ribuan tahun.
Peninggalan-peninggalan sejarah itu menjadi surga turis. India pun memiliki banyak peninggalan sejarah, tetapi yang populer tidak banyak, di antaranya yang baru berusia empat abad Taj Mahal, Chowmahalla Palace, masjid-masjid bersejarah di Hyderabad, dan Basilika St Thomas di Chennai. India juga tidak memiliki hutan yang luas sebagaimana Brasil, Kongo, Indonesia, dan negara-negara Skandinavia. India tidak memiliki areal pertanian amat luas seperti AS karena penduduknya terlampau banyak. Ekspansi manusia atas lahan subur sangat deras. India tidak memiliki banyak danau sebagaimana Swiss dan Finlandia.
Di luar aspek ini terdapat satu stereotip untuk segelintir orang India, yakni mereka merasa senang jika bisa ngerjain dan atau memperdaya orang. Entah bakat ini datang dari mana, tetapi kebiasaan segelintir orang India yang suka berbohong dan tidak tepat waktu ini yang membuat warga dunia acap tidak nyaman.
India boleh menawan dan mempunyai banyak peninggalan kelas dunia, tetapi kalau tabiat tersebut masih melekat, tidak banyak warga dunia suka datang.
Kembali ke pertanyaan awal, apa yang dimiliki India untuk memenuhi ambisinya? Ada beberapa aspek yang sangat potensial. Pertama, dunia percaya bahwa India mempunyai sumber daya manusia kelas satu. Di negeri penuh manusia ini (bayangkan saja Mumbai dan Kolkata dihuni masing-masing 30 juta penduduk, New Delhi 18 juta, atau sama dengan seluruh penduduk benua Australia), sekolah demikian mudah dan murah.
Untuk sekolah S-1, Anda hanya butuh uang kuliah tidak sampai Rp 2 juta. Untuk S-2 tidak sampai Rp 4 juta, dan untuk S-3 tidak sampai Rp 6 juta. Semua biaya pendidikan itu dari tahun pertama kuliah sampai selesai. Coba, di negara mana dapat menemukan biaya sekolah semurah itu? Dan jangan keliru, meski biayanya murah meriah, mutu sekolah di India sangat tinggi.
Dengan kualitas sebagus itu, India mudah melambungkan cita-cita. Kapal perang mutakhir, kapal penumpang, dan pesawat terbang dengan mudah mereka buat. Sepeda motor, mobil, truk sampai kereta api dengan sekejap dapat dibuat. Begitu pula membuat mesin-mesin presisi, traktor, komputer, jam tangan, dan sebagainya.
Begitu hebatnya kemampuan putra-putri India ini sehingga pernah suatu ketika, 90 persen barang kebutuhan warga India adalah buatan domestik. Bahkan, China yang demikian perkasa dengan produk dalam negeri tidak secemerlang India.
Kedua, India berjalan di barisan terdepan untuk teknologi presisi dan teknologi tinggi. Dunia sangat mengakui kemampuan India ini sehingga putra-putri India merajalela di dunia sebagai ahli-ahli teknologi tinggi yang sangat berkelas.
Negara-negara Eropa, Asia, dan Amerika memanfaatkan kemampuan India ini untuk menopang negeri mereka. Tanpa kehadiran para ahli India, akselerasi pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan dan keahlian tinggi kurang terasa. Kemampuan sumber daya manusia yang sangat tinggi ini buah dari sekolah yang sangat bermutu dan luar biasa murahnya.
Ketiga, warga India dan pemerintahnya yang bersemangat sosialis sangat sederhana. Bayangkan, kini terdapat 10 orang India yang masuk dalam daftar 50 warga terkaya dunia.
Akan tetapi, lihatlah pemandangan kontradiktif di India sendiri. Tidak tercium aroma dan sinar kemewahan di sana. Mobil yang berseliweran di jalan umumnya mobil sederhana. Ada, misalnya, mobil Ambassador Classic yang harganya antara Rp 80 juta sampai Rp 105 juta. Dan hebatnya, inilah mobil yang digunakan para menteri di India.
Perdana Menteri Manmohan Singh juga menggunakan Ambassador, mobil sederhana mirip Fiat dan Impala tahun 1950-an dan 1960-an di Indonesia. Mobil nyaman sekelas Mercy, Lexus, dan BMW sesekali tampak di jalan raya, tetapi sungguh bisa dihitung dengan jari. Mobil-mobil luks seperti limo dan Rolls Royce baru keluar dari kandangnya kalau ada tamu negara sahabat berkunjung. Uniknya, mobil mewah itu dinaiki para tamu negara, sementara pejabat India tetap naik mobil Ambassador itu.
Orang India, seperti diutarakan CEO Times of India Ravi Dhariwal, adalah orang-orang yang sangat sederhana dan melihat keperluan manusia berdasarkan fungsi. Orang India selalu tampil sederhana, tidak berlebihan. Atau, seperti diutarakan James Vennkatesh, seorang usahawan menengah di Chennai, pakaian kita ketahui untuk menutupi sebagian besar tubuh. Nah, kalau bisa membeli kemeja dengan harga Rp 50.000, dan ternyata bagus-bagus saja, untuk apa mesti membeli satu potong kemeja seharga Rp 50 juta?
Contoh lain, kalau bisa beli sepatu kuat, gagah, tidak memalukan dipakai, dan harganya hanya Rp 100.000, untuk apa pasang aksi dengan membeli sepatu seharga Rp 12 juta? Atau arloji, kalau ada arloji sangat bagus, tidak perlu diputar tiap menit, tetapi harganya hanya Rp 75.000, lalu untuk apa mesti membeli arloji seharga Rp 300 juta?
Keempat, warga India adalah tipe pekerja keras dan tahan derita, mirip karakter orang-orang China daratan. Dengan kelebihan ini, mereka bisa merintis usaha menjadi bangsa sangat terkemuka di dunia. Namun, apakah dalam tempo 15 tahun India sudah bisa melejit menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor satu atau sebutlah nomor dua di dunia? Rasanya masih sulit. Meski demikian, janganlah kita meremehkan India. Biarlah waktu yang menjawabnya.
Sabtu, 31 Oktober 2009
TAJUK RENCANA
Jiwa Kewirausahaan
Bukan sekali ini Presiden mengemukakan pentingnya jiwa kewirausahaan ikut mengurangi jumlah penganggur dan menurunkan ukan sekali ini Presiden mengemukakan pentingnya jiwa kewirausahaan ikut mengurangi jumlah penganggur dan menurunkantingkat kemiskinan.tingkat kemiskinan.
Akan tetapi, ketika pernyataan itu ditegaskan sebagai arahan awal kerja kabinet, maknanya lain. Dia menjadi simpul pengikat bagaimana proses belajar-mengajar di lembaga pendidikan diselenggarakan, mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Kewirausahaan menjadi kata kunci mengatasi persoalan besar kita: pengangguran dan kemiskinan.
Ciputra termasuk satu dari beberapa orang yang gencar menjual ide kewirausahaan. Jiwa kewirausahaan bangsa Indonesia rendah sekali. Wirausaha bukan berarti pedagang, melainkan yang bernaluri dan yang punya perhitungan kreatif dan inovatif melakukan terobosan di segala bidang. Mengubah sesuatu dari yang tidak berguna menjadi berguna, sampah menjadi pupuk, dan memanfaatkan peluang untuk kemajuan.
Agar terlaksana, jiwa itu dikembangkan lewat tiga ranah. Pertama, lewat ranah kurikulum dan praksis pendidikan (belajar-mengajar) di sekolah. Kedua, lewat ranah pendidikan tinggi didirikan
pusat-pusat kewirausahaan. Ketiga, lewat ranah masyarakat dikembangkan gerakan nasional budaya dan pelatihan kewirausahaan.
Dunia kerja dan dunia pendidikan tidak ketemu. Praksis pendidikan di lembaga pendidikan tinggi kurang mengembangkan jiwa kewirausahaan. Padahal, kewirausahaan merupakan kunci kemajuan atau meminjam istilah Huntington dan Lawrence Harrison (Culture Matters: 2000), berbudaya progresif.
Praksis pendidikan dasar dan menengah terus diperbaiki. Presiden meminta Mendiknas Mohammad Nuh mengubah metodologi belajar-mengajar. Mendiknas berjanji mereformasi sistem pendidikan, khususnya metode belajar-mengajar. Semua masih ”akan”, dengan catatan perlu dijaga agar tidak mengulang trauma ”ganti menteri ganti kebijakan”.
Angka pengangguran per Februari 2008 sebesar 9,43 juta atau 8,46 persen jumlah total penduduk, tidak secara langsung merupakan akibat praksis pendidikan yang kurang mengembangkan jiwa kewirausahaan.
Mendorong jiwa kewirausahaan perlu diimplementasikan dalam target, inisiatif-inisiatif yang perlu dilakukan plus biaya yang diperlukan. Pembentukan pusat kewirausahaan dengan target 20 persen lulusan perguruan tinggi menjadi usahawan di tahun 2014, misalnya, tentu menyangkut bagaimana dilaksanakan dan berapa besar biayanya.
Kita akhiri keluhan rendahnya jiwa kewirausahaan. Kita implementasikan target jumlah ideal usahawan dua persen dari total jumlah penduduk Indonesia—saat ini baru 0,18 persen—yang dibutuhkan untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, di antaranya mengurangi jumlah penganggur dan menurunkan tingkat kemiskinan.
***
Iran dan Kerja Sama Nuklir
Menarik kabar bahwa sekarang ini Iran sudah siap bekerja sama dalam bidang nuklir. Ini terdengar tidak biasa mengingat sikap Iran selama ini.
selama ini yang banyak terdengar adalah Iran matimatian membela program nuklirnya. Menurut berita dalam koran ini kemarin, menyusul pertemuan tiga hari antara perunding Iran dan perunding Barat di Vienna, yang juga menjadi pusat Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Iran kini siap membangun kerja sama di bidang bahan bakar nuklir, pembangkit listrik, dan teknologi.
Sebagai sikap, ini jelas satu kemajuan. Dengan itu, setidaknya selalu terbuka kanal komunikasi antara Iran dan negara-negara Barat, yang selama ini mencurigai bahwa program nuklir Iran ditujukan tidak saja untuk maksud damai, tapi juga untuk pembuatan senjata nuklir.
Manakala saluran komunikasi ada, tidak perlu lagi mestinya ancaman dan sanksi seperti yang selama ini banyak menjadi landasan kebijakan Barat. Masih segar dalam ingatan, salah satu pokok pembicaraan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton ke Rusia beberapa pekan silam adalah mencari dukungan Rusia untuk menekan Iran lebih jauh, tetapi Rusia menolak permintaan tersebut.
Lebih buruk, cukup banyak pula diwacanakan kemungkinan serangan ke Iran, baik oleh AS sendiri maupun oleh Israel. Israel sangat risau dengan program nuklir Iran. Bukan saja karena supremasi nuklir di Timteng akan ditandingi, tetapi juga karena kepemilikan senjata nuklir oleh pihak lain di Timteng sangat membahayakan eksistensinya. Jadi, masuk akal kalau pilihan menyerang Iran sebelum bom nuklir menjadi kenyataan sebetulnya merupakan opsi yang punya bobot tinggi di Israel.
Akan tetapi, kita juga tahu, melancarkan serangan ke Iran akan menjadi hal yang berbeda dibandingkan dengan menyerang fasilitas nuklir Irak, yang dilakukan Israel pada Juni 1981. Pasti akan ada api yang berkobar hebat di Timur Tengah, mungkin juga akan melibatkan Rusia.
Dalam perspektif itu, terbukanya peluang kerja sama nuklir antara Iran dan IAEA, juga dengan negara Barat, memancarkan sinyal positif. Beberapa hari lalu IAEA juga mengumumkan, pihaknya tidak menemukan hal yang mencurigakan setelah memeriksa fasilitas nuklir Iran.
Pada sisi lain, disebutkan pula seperti dikemukakan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, pihaknya tetap punya hak nasional. Jelas itu pernyataan bak bermata dua: satu mengarah ke Barat, satu lagi mengarah ke oposisi yang mencurigai kerja sama dengan Barat akan menjadi konsesi yang memubazirkan jerih payah ribuan ilmuwan Iran.
Ke pihak Barat, pernyataan Ahmadinejad juga berarti bahwa Iran tetap punya ruang untuk mengembangkan program nuklir yang dinilai esensial bagi eksistensi dan kejayaan nasionalnya. Dengan kacamata itu, kita tidak akan naif membaca perkembangan terakhir ini.
Skandal Terbesar sejak Reformasi
Jakarta, Kompas - Kasus Bank Century merupakan skandal terbesar sejak reformasi. Apabila kasus Bank Bali merugikan uang negara di bawah Rp 1 triliun, kasus Bank Century menyedot uang negara sampai Rp 6,7 triliun.
Calon presiden di Konvensi Dewan Integritas Bangsa, Yuddy Chrisnandi, mengingatkan hal itu saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Jumat (30/10). ”Ini jelas sebuah kejahatan pemerintah,” kata Yuddy.
Sebuah bank kecil, tetapi diberikan fasilitas mendapatkan dana penyehatan Rp 6,7 triliun, menurut Yuddy, jelas menunjukkan kejanggalan. Apalagi pemberian dana yang sangat besar itu pun dilakukan tanpa melalui sepengetahuan publik, yaitu melalui lembaga Dewan Perwakilan Rakyat.
Uang negara yang merupakan jerih payah seluruh rakyat tidak bisa serta-merta diserahkan pemerintah dengan cara seperti itu. Pemerintah berarti telah mengingkari adanya otoritas rakyat dan seolah-olah tidak ada rakyat.
Sejauh ini pemerintah tidak menunjukkan adanya itikad yang kuat untuk mengusut siapa saja yang terlibat dalam kasus ini, bahkan cenderung menutup-nutupi.
”Ini sebuah skandal terbesar di era reformasi,” ujar Yuddy yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat 2004-2009.
Kumpulkan data
Sampai kemarin Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di DPR terus mengumpulkan data-data untuk memperkuat usulan penggunaan hak angket atau penyelidikan.
”Bahan-bahan sudah begitu banyak. Data di Komisi XI juga sudah lengkap. Banyak juga faksimile yang sudah masuk. Kami juga sudah bertemu dengan ahli perbankan, ahli ekonomi, hukum, dan lainnya. Minggu depan kami juga akan menerima para nasabah Century yang meminta bertemu,” papar Ketua F-PDIP Tjahjo Kumolo.
Dengan terkumpulnya banyak data tersebut, Tjahjo berkeyakinan sebelum masa sidang DPR berakhir, yaitu 5 Desember 2009, usulan hak angket sudah dapat disampaikan ke pimpinan DPR.
Disebabkan syarat pengajuan angket adalah diusulkan 25 anggota DPR yang berasal lebih dari satu fraksi, Tjahjo berharap fraksi lain turut mendukung. Dia berkeyakinan fraksi lain akan mendukung karena rakyat menghendaki kasus ini diusut tuntas.
”Semua anggota DPR itu, kan, dari fraksi mana pun, pasti punya rakyat yang diwakilinya di daerah pemilihan masing-masing,” paparnya.
Penggunaan hak angket juga bukan berarti mencari-cari siapa yang salah, tetapi justru untuk mengusut persoalan ini dengan jelas, tidak mengambang.
Rapat gabungan Century
Rapat internal Komisi III DPR, pekan lalu, mengusulkan diadakan rapat gabungan dengan Komisi XI untuk membahas persoalan kasus Century. Namun, dalam Rapat Badan Musyawarah, Kamis, hal itu belum diagendakan.
Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Soesatyo, yang terus mendorong agar kasus Century diselidiki secara tuntas pun merasa heran karena itu. ”Ini aneh karena Komisi III sudah mengusulkan,” ucapnya. (sut)
Jumat, 30 Oktober 2009
Menggerakkan Sektor Riil
Iman Sugema (InterCAFE IPB)
Kabinet baru telah terbentuk, dan mayoritas di tim ekonomi adalah muka baru serta politisi. Mereka punya 100 hari untuk segera membuktikan bisa berbuat lebih baik dibanding tim sebelumnya. Persepsi pelaku pasar keuangan dan sejumlah komponen masyarakat yang sedikit meragukan kemampuan mereka, harus segera dijawab dengan kerja nyata. Pencitraan memang bisa sedikit menolong, tetapi rakyat lebih membutuhkan karya nyata.
Adalah penting bagi tim yang baru untuk mengambil arah kebijakan yang relatif berbeda dengan tim yang lama, agar bisa mengatasi berbagai persoalan secara lebih kreatif dan cepat. Ada beberapa kebijakan dasar yang memerlukan perubahan, yakni sebagai berikut.
Pertama, terlalu banyak kebijakan yang bersifat antidomestik. Dikatakan demikian, karena sejumlah kebijakan bersifat merugikan pelaku domestik, menguntungkan pihak asing, bahkan mematikan para pengusaha kecil. Mungkin hanya di Indonesia saja yang memiliki kebijakan yang secara sistematis pelaku domestik terkerdilkan, sementara pihak asing banyak diberi kemudahan. Ke depan, kita lebih menginginkan perlakuan yang lebih adil dan lebih berpihak pada pengusaha domestik. Contoh yang paling nyata adalah di sektor energi dan perdagangan.
Pabrik pupuk seringkali kesulitan mendapatkan gas alam dan terpaksa beberapa pabrik harus ditutup. PLN beberapa kali mengalami kesulitan mendapatkan gas dan batu bara. Di lain pihak, kita jor-joran melakukan ekspor gas dan batu bara. Bahkan, lapangan minyak blok Cepu yang tadinya 100 persen merupakan milik Pertamina, kini diserahkan pengelolanya kepada asing. Lebih parah lagi, eksploitasi blok tersebut sangat lamban dan sebagai akibatnya menjadi sulit bagi kita untuk meningkatkan produksi minyak. Alhasil, impor minyak terus membengkak dan setiap ada kenaikan harga minyak dunia, kita menjadi sangat repot dalam menyesuaikan APBN karena pembengkakan anggaran subsidi. Kita dibikin repot oleh kebijakan kita sendiri.
Liberalisasi perdagangan juga seringkali tidak memikirkan dampaknya bagi pengusaha sektor riil. Contohnya, liberalisasi ekspor rotan mentah yang mengakibatkan para pengrajin rotan di Cirebon gulung tikar karena kesulitan bahan baku. Pengrajin kuningan juga kesulitan bahan baku karena kuningan bekas diperbolehkan untuk diekspor. Padahal, pasokan logam kuningan sangat terbatas.
Celakanya, kebijakan-kebijakan tersebut lebih menguntungkan pengrajin di luar negeri dan pedagang serta eksportir. Pedagang dan eksportir notabene kebanyakan adalah saudara kita yang berketurunan Tionghoa. Susahnya lagi menterinya adalah keturunan Tionghoa. Pejabat daerah dan di Departemen Perdagangan menjadi kurang berani untuk memprotes kebijakan seperti ini, karena takut dituduh menjegal kebijakan dengan isu rasial. Kita memang tidak boleh mencampuradukkan isu rasial dengan kebijakan ekonomi yang sehat. Kita harus melihatnya secara objektif, apakah kebijakan liberalisasi menguntungkan rakyat atau tidak, dan menggerakkan sektor riil atau tidak.
Kedua, berbagai kebijakan di sektor finansial telah sampai pada tahap di mana sektor finansial justru menjadi penghambat sektor riil. Uang menjadi semakin menumpuk tanpa bisa dimanfaatkan oleh sektor riil karena hanya berputar-putar di sektor finansial. Teorinya, sektor finansial menambah kemampuan sektor riil untuk berkembang. Teori ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.
Karena Menteri Keuangan menerbitkan surat utang dengan tingkat imbal hasil atau yield sampai 13 persen, suku bunga kredit sulit sekali turun. Walaupun Bank Indonesia telah berkali-kali menurunkan BI rate, pengucuran kredit perbankan masih juga lambat. Kebijakan suku bunga rendah yang diupayakan BI menjadi mandul karena bertubrukan dengan kebijakan Menteri Keuangan.
Derasnya aliran dana asing telah mendongkrak harga saham dan akumulasi SBI yang dikuasai asing. Tumpukan SBI mencerminkan besarnya dana nganggur yang tidak bisa dimanfaatkan secara produktif. Peningkatan harga saham yang terlalu fantastik, dapat menarik dana-dana dari pelaku usaha sehingga investasi di sektor riil justru ditinggalkan. Uang hanya berputar dari satu instrumen finansial ke instrumen lainnya tanpa pernah bersinggungan dengan aktivitas produktif.
Ketiga, keterlambatan dalam penyediaan infrastruktur dapat mengakibatkan lemahnya daya saing. Lambannya pembangunan pembangkit dan jaringan listrik tidak hanya telah menghambat investasi swasta, tetapi juga telah merugikan masyarakat dan pengusaha. Listrik yang byar-pet menyebabkan aktivitas usaha di sejumlah daerah menjadi terhambat. Bahkan, daerah yang menjadi lumbung energi, seperti Kalimantan Timur, Sumatra Selatan, dan Riau masih belum menikmati kecukupan energi listrik. Kita tidak pernah melihat Singapura, Korea, dan Jepang yang gelap gulita karena pasokan energinya selalu kita cukupi. Ironis bukan?
Pembangunan dan perbaikan jaringan transportasi juga terkesan sangat lamban sehingga tidak mampu mengimbangi perkembangan aktivitas masyarakat. Jalan lintas di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi masih kurang memadai untuk memungkinkan pergerakan barang secara cepat dan murah. Pembangunan jalan tol dan kereta api di Jawa dan Sumatra tak kunjung terselesaikan. Perdagangan antarpulau juga menjadi mahal karena infrastruktur transportasi laut kurang berkembang. Lebih murah mengimpor jagung dari Amerika ketimbang mendatangkannya dari Gorontalo ke Surabaya.
Kalau seandainya tiga masalah tersebut bisa diselesaikan dalam satu tahun pertama, pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen di tahun-tahun berikutnya menjadi lebih mudah untuk dicapai. Tapi, itu hanya bisa terjadi kalau para menteri di tim ekonomi mampu mengubah haluan kebijakannya. Selamat mencoba.
Kamis, 29 Oktober 2009
Selasa, 06 Oktober 2009
Senin, 05 Oktober 2009
Minggu, 04 Oktober 2009
Bencana dan Quran
Oleh Moch Syarif Hidayatullah
(Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta)
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan Islam ihwal bencana alam. Pandangan itu diambil dari Alquran dan hadis sebagai rujukan utama idiom, istilah, konsep, dan tema pokok dalam Islam.Ini terkait dengan sembilan kata yang diketahui berisi pandangan Islam soal bencana: zhulumat, al-kubar, al-karb, su', nailan, 'adzab, sayyi'ah, da'irah, dan mushIbah.
Kata kunci : bencana alam, Islam, ujian, siksa
PENDAHULUAN
Yang disebut bencana alam itu--sesuai definisi yang diberikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 131)--adalah sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan yang disebabkan oleh alam. Biasanya bencana ini menyangkut segala kejadian yang menimpa dalam skala yang besar dan efek yang luar biasa.
METODOLOGI
Dalam tulisan ini, ragam bahasa tulis yang dipergunakan sebagai data dengan pertimbangan bahwa ragam tulis lebih mantap dan terencana. Bahasa Arab tulis yang dipergunakan sebagai data tulisan ini adalah bahasa Arab
HASIL DAN DISKUSI
Kata Bencana dalam AlquranDalam bahasa Arab, segala hal yang tidak disukai yang menimpa seseorang disebut mushIbah (lih. Al-Ayid, 2003: 754). Kata ini diserap dalama bahasa Indonesia menjadi musibah yang mempunyai dua makna: pertama, ‘kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa’; kedua, ‘malapetaka’ (lih. Alwi dkk., 2002: 766). Alquran juga menggunakan kata ini di antaranya untuk memaknai apa yang kita kenal sebagai bencana. Ini paling tidak terlihat dalam bentuk verba perfektif pada QS 3: 146 (ashaba); dalam bentuk verba imperfektif pada QS 13: 31 (y[t]ushIbu); dan dalam bentuk nomina pada QS 9: 50 (mushIbah).
Selain kata ini, Alquran--sesuai terjemahan yang dilakukan oleh tim ahli Departemen Agama (Al Quran Digital 2.0, CD-ROM 2004)—menggunakan kata lain yang berkonsep bencana. Sedikitnya ada delapan kata yang kemudian dipadankan dengan bencana.Pertama, kata zhulumat (bentuk plural dari zhulmah), seperti terdapat pada QS 6: 23. Kedua, kata al-kubar, seperti terdapat pada QS 74: 35. Ketiga, kata al-karb, seperti terdapat pada QS 37: 115, 37: 76, 21: 76, 6: 64. Keempat, kata su', seperti terdapat pada QS 33: 17. Kelima, kata nailan, seperti terdapat pada QS 9: 120. Keenam, kata 'adzab, seperti terdapat pada QS 9: 26. Ketujuh, kata sayyi'ah (bentuk tunggal), seperti terdapat pada QS 3: 120, 4: 78—79; kata sayyi'at (bentuk jamak), seperti terdapat pada QS 7: 168. Kedelapan, kata da'irah, seperti terdapat pada QS 5: 52.
Namun demikian, kata mushIbah-lah yang paling banyak dipergunakan sebagai pengganti konsep bencana dalam bahasa
Hanya saja kata mushIbah berikut derivasi dan infleksinya yang terdapat di Alquran itu tidak selalu mengacu pada konsep bencana alam yang menjadi bahasan tulisan ini. Kata mushIbah dalam Alquran itu mengacu pada definisi kata ini dalam bahasa Arab. Konsepnya lebih luas daripada kata bencana alam, karena musibah apa pun meskipun skala dan efeknya kecil tetap saja bisa disebut mushIbah, yang tentu saja dalam bahasa Indonesia tidak bisa disebut bencana alam.
Ujian atau Siksa? Pertanyaan ini selalu saja menarik peneliti yang mengkaji tema bencana alam dalam tinjauan agama apa pun. Dalam Islam pun, pertanyaan ini juga banyak muncul. Kesan ini pun tercermin dalam beberapa ayat Alquran. Sejauh pengamatan saya, Alquran mengelompokkan bencana menjadi dua kelompok ini.
Kelompok bencana yang menjadi ujian terdapat setidaknya pada ayat berikut: "Mengapa ketika ditimpa bencana (pada Perang Uhud), padahal kalian telah mengalahkan dua kali lipat musuh-musuhmu (pada Perang Badar), kalian berkata, 'Darimana datangnya (bencana berupa kekalahan) ini?' Katakanlah, 'Itu (berasal) dari (kesalahan) dirimu sendiri.' Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," (QS Ali Imran [3]: 165). Kelompok bencana yang menjadi siksa yang diakibatkan perilaku zalim terdapat pada ayat berikut: "Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menyapu tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri," (QS Ali Imran [3]: 117). Bencana akibat perilaku maksiat terdapat pada ayat berikut: "Ketika mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami (Allah) menyelamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat maksiat," (QS Al-A'raf [7]: 165). Bencana yang menjadi siksa terdapat pada ayat berikut: "Orang yang tidak beriman senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga janji Allah itu terbukti. Allah tidak menyalahi janji," (QS Al-Ra'd [13]: 31).
Pada ayat-ayat di atas parameternya sangat jelas, mana bencana yang menjadi ujian dan mana bencana yang menjadi siksa. Bila bencana itu diakibatkan karena kesalahan yang tidak disengaja, maka bencana itu menjadi ujian bagi pelakunya, untuk kemudian mengukur seberapa besar kadar keimanannya. Sebaliknya, bila bencana itu diakibatkan oleh perilaku maksiat, zalim, dan tidak beriman yang disengaja, maka bencana itu menjadi siksa.
Namun, bila yang dimaksudkan bencana alam, maka Alquran selalu mengelompokkannya ke dalam bencana yang menjadi siksa dan berkait dengan perilaku tidak beriman.
No. Ayat
(1)
"Katakanlah, 'Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu," (QS Al-An'am [6]: 65).
(2)
"Karena itu mereka ditimpa gempa, lalu mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka," (QS. Al-A'raf [7]: 78).
(3)
"Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Lalu, ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, 'Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya,"(QS Al-A'raf [7]: 155).
(4)
"Mereka tidak mengimani Syuaib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka,"(QS Al-Ankabut [29]: 37).
Data (1) memang tidak secara eksplisit menyebut gempa, tetapi yang dimaksud siksa yang dari bawah kakimu adalah gempa bumi. Ayat ini berkaitan dengan orang yang tidak beriman atas Alquran sebagai kitab suci. Data (2) juga berkaitan dengan sekelompok orang yang tidak mengimani kenabian Shaleh. Sementara itu, data (3) terkait dengan perbuatan sekelompok orang yang membuat patung anak lembu untuk dijadikan sesembahan selain Allah. Data (4) dengan tegas menyebut sekelopok orang yang tidak mengimani kenabian Syuaib.Keempat data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa gempa bumi itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman.Terkait dengan banjir, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:
(5)
"Tetapi mereka berpaling, Kami pun datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit dari pohon Sidr," (QS Saba' [34]: 16).
(6)
"Lalu Kami wahyukan kepadanya, 'Buatlah bahtera di bawah pantauan dan petunjuk Kami. Lalu, apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan," (QS Al-Mukminun [23]: 27).
(7)
"Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang
Menurut Al-Qurthubi (1997), data (5) terkait dengan kaum
(8)
"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,"(QS Al-Fath [48]: 4).
(9)
"Tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin (topan) yang mengandung azab yang pedih,"(QS Al-Ahqaf [46]: 24).
(10)
"Kami meniupkan angin (topan) yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksa yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Padahal, siksa akhirat lebih menghinakan, sementara mereka tidak diberi pertolongan,"(QS Fushshilat [41]: 16).
(11)
"Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin topan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu.Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami," (QS Al-Isra [17]: 69).
(12)
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat. Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan,"(QS Al-Ahzab [33]: 9).
(13)
"Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus," (QS [54]: 19).
(14)
"Apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkirbalikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu,"(QS Al-Isra [17]: 68).
(15)
"Kaum 'Ad telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang," (QS Al-Haqqah [69]: 6).
(16)
"Angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk," (QS Al-Dzariyat [51]: 42).
(17)
"Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus. Kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk),"(QS Al-Haqqah [69]: 7).
(18)
"Pada (kisah) 'Ad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan," (QS Al-Dzariyat [51]: 41).
(19)
"Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing,"(QS Al-Qamar [54]: 34).
Data (8) memang tidak disebutkan soal angin topan. Namun, menurut Ibn Katsir (1997), tentara langit dan bumi yang ada di ayat itu ialah penolong yang dijadikan Allah untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin topan, dan sebagainya. Dengan kata lain, tentara langit dan bumi akan memukul orang yang tidak beriman. Data (9) terkait dengan kaum 'Ad yang tidak beriman atas kenabian Hud. Data (10) juga terkait dengan kaum 'Ad. Data (11) terkait dengan orang yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima. Data (12) terkait dengan sekelompok orang menentang Allah dan Rasul-Nya. Data (13) juga terkait dengan kaum 'Ad. Data (14) terkait dengan orang yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima. Data (15) juga terkait dengan kaum 'Ad.Data (16) pun terkait dengan kaum 'Ad. Data (17) juga terkait dengan kaum 'Ad. Data (18) pun terkait dengan kaum 'Ad. Data (19) terkait dengan kaum Luth yang tidak mengimani ajakan Luth untuk hidup normal dalam kecenderungan seksual. Ketiga ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa banjir itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. Data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa angin topan itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman.Terkait dengan hujan batu, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:
(20)
"Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), lalu amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu,"(QS Al-Naml [27]: 58).
(21)
"Mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan terburuk ( hujan batu). Apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu?"(QS Al-Furqan [25]: 40).
(22)
"Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu," (QS Al-Syuara [26]: 173).
"Kami turunkan kepada mereka hujan (batu). Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu," (QS Al-A'raf [7]: 84).
(23)
"Masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri,"(QS Al-Ankabut [29]: 40).
Semua data yang menginformasi siksa berupa hujan batu di atas berkaitan dengan kaum Luth yang tidak mengimani kenabian Luth serta tidak mengindahkan anjuran Luth untuk hidup normal secara seksual. Terkait dengan petir, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:
(24)
"Jika mereka berpaling, maka katakanlah, 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud,'"(QS Al-Syura [41]: 13).
(25)
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata." Mereka disambar petir karena kezalimannya. Mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami aafkan (mereka) dari yang demikian. Kami telah berikan kepada Musa keterangan yang nyata," (QS Al-Nisa [4]: 153).
(26)
"(Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan)[377], disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, juga karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, karena membunuh para nabi tanpa (alasan) yang benar, dan karena mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka,"(QS Al-Nisa [4]: 155).
(27)
"Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini). Mudah-mudahan Dia mengirimkan keputusan (berupa petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin,"(QS Al-Kahf [18]: 40).
(28)
"Kaum Tsamud telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk. Karenanya mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan,(QS Fushshilat [41]: 17).
(29)
"Mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya," (QS Al-Dzariyat [51]: 44).
(30)
"Kaum Tsamud telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa," (QS Al-Haqqah [69]: 5).
Data (24) menyinggung petir yang telah menyambar kaum 'Ad dan Tsamud. Data (25) menyinggung ihwal orang Yahudi pada zaman Nabi Musa juga tersambar petir karena ingin melihat Allah sebagai buah dari ketidakimanan mereka. Data (26) memang tidak menyebut secara langsung ihwal petir, tetapi pada frasa beberapa tindakan, menurut Al-Qurthubi (1997), salah satu yang dimaksudkan orang Yahudi disambar petir. Data (27) menginformasikan ihwal perilaku sseorang yang syirik sehingga kebunnya disambar petir. Data (28) menyinggung siksa yang diterima kaum Tsamud. Demikian pula dengan data (29). Data (30) pun berkaitan dengan siksa yang diterima kaum Tsamud, meskipun tidak disebutkan kata petir di ayat itu. Hanya yang dimaksud dengan kejadian luar biasa itu, menurut Ibn Katsir (1997), ialah petir yang amat keras yang menyebabkan suara mengguntur yang dapat menghancurkan. Ayat-ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa bencana alam yang berhubungan dengan petir berkaitan langsung dengan perilaku tidak beriman dan syirik yang berbuah siksa.
Terkait dengan kemarau, paceklik, dan kelaparan, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:
(31)
"Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudaratan yang mereka alami, mereka benar-benar akan terus menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka,"(QS Al-Mukminun [23]: 75).
(32)
"Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran," (QS Al-A'raf [7]: 130).
(33)
"Untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," (QS Al-Thur [52]: 47).
(34)
"Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat,"(QS Al-Nahl [16]: 112).
(35)
"Tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata," (QS Al-Dukhan [44]: 10).
Data (31) terkait dengan kaum musyrikin yang mengalami kelaparan, karena tidak ada bahan makanan yang datang dari Yaman ke Mekah. Padahal, saat ittu Mekah dan sekitarnya dalam keadaan paceklik. Data (32) sangat gamblang menginformasikan hukuman yang diterima Firaun beserta pendukungnya yang tidak mengimani Allah. Data (33) memang tidak secara eksplisit menginformasikan kemarau, tetapi yang dimaksud azab yang lain ialah musim kemarau, kelaparan malapetaka yang menimpa mereka, azab kubur, dan lain-lain. Data (34) terkait dengan penduduk suatu negeri yang mengingkari keneikmatan Tuhan lalu mendapat bencana kelaparan dan ketakutan. Data (35) juga tidak secara gamblang menginformasikan kelaparan, tetapi yang dimaksud kabut yang nyata, menurut Ibn Katsir (1997), ialah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy karena mereka menentang Nabi Muhammad Saw.
Data yang terhimpun pada bagian ini membantah pandangan yang menyatakan bahwa bencana alam yang terjadi murni akibat gejala alam semata. Dari data yang ada, bencana alam selalu berkaitan erat dengan perilaku tidak beriman yang berbuah siksa. Gejala alam memang ada, tetapi itu bukan satu-satunya.
Mengantisipasi BencanaDalam Islam, semua yang sudah ditentukan Tuhan pasti akan terlaksana. Rela atau tidak, ketentuan Tuhan tetap berlaku. Allah Swt. berfirman, “Ketika Allah dan Rasul-Nya memutuskan sesuatu, maka mereka tidak mempunyai pilihan lain,� (QS Ali Imran [3]: 36). Bila mengikuti logika ayat ini, bencana alam yang memang sudah menjadi keputusan dan skenario Allah, maka siapa pun tidak punya pilihan lain untuk menghindarinya. Lalu, apakah tidak ada celah untuk bisa menghindarinya? Sebetulnya masih ada celah, meski itu hanya meminimalisasi kemungkinan bencana menjadi lebih banyak dampaknya. Caranya dengan mengantisipasi segala kemungkinan sehingga bisa lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Meskipun ini tidak bisa menjadi jaminan sepenuhnya, karena setiap bencana punya rahasia dan misterinya tersendiri.
Mengenai mengantisipasi musibah, kisah perahu Nabi Nuh menjadi pelajaran tersendiri. Nabi Nuh memang sudah diperintahkan Allah untuk menyiapkan perahu untuk keselamatannya dan keselamatan orang-orang yang berada di barisannya. Allah memerintahkan membuat perahu itu karena akan ada banjir bandang luar biasa di negeri yang ditinggalinya. “Buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami Jangan bicarakan di hadapan-ku tentang orang-orang yang zalim itu. Mereka itu akan ditenggelamkan,� (QS Hud [11]: 37). Perahu ini adalah bagian dari antisipasi untuk menghindari musibah. Ketika banjir bandang benar-benar terjadi, Nabi Nuh bersama kaumnya yang taat selamat.
Kisah Nabi Nuh ini memberikan pelajaran amat berharga. Upaya antisipasi harus tetap dilakukan, meski upaya itu tidak boleh membuat takabur akan kemampuan yang dimiliki. Ketakaburan akan antisipasi ini pernah ditunjukkan oleh Qan'an, putra Nuh, yang tidak mau mengikuti ajakan Nuh untuk naik ke atas kapal. "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" (QS Hud [11]: 43). Padahal, Nuh sudah melarang. "Nuh berkata, 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang,'" (QS Hud [11]: 43). Karena tidak mendengar perintah sang ayah, Qan'an termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. Ini juga memberi pelajaran agar kita mau mendengar orang-orang yang diberikan kemampuan lebih oleh Allah yang memang diyakini kejujuran dan reputasinya. Orang-orang itu bisa berangkat dari kalangan ilmuwan atau bisa juga dari kalangan awam yang memiliki kearifan lokal. Masalah gempa misalnya, seseorang yang berada di daerah rawan gempa mesti mendengar apa nasihat para ahli tentang rumah tahan gempa. Masalah tsunami, seseorabf juga harus mendengar dan mengamalkan nasihat para cerdik pandai untuk membuat bangunan yang bisa menyelamatkannya dari bencana dahsyat bila kita berada di wilayah yang rawan tsunami dan siklus tsunami sudah dekat waktunya. Selain para ilmuwan, patut juga mendengar orang-orang yang memiliki kearifan lokal, yang memang dianugerahi Allah kemampuan membaca penanda situasi dan kemampuan mengakrabi alam. Belakangan negeri ini punya Mbah Maridjan, yang dengan gagah berani menyatakan Gunung Merapi aman. Bangsa ini pun tidak pernah kehabisan orang-orang seperti Mbah Maridjan ini. Dulu ada Ronggowarsito dan tentu saja para wali songo.
Nabi Muhammad semenjak 15 abad lalu sudah menitipkan prinsip penting dalam masalah antisipasi ini. Ketika ada sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lantaran ia bertawakal sepenuhnya pada Allah, Nabi langsung menegur orang itu, “Ikat dulu, baru tawakal,� (HR Al-Tirmidzi). Dari sabda Nabi Muhammad ini pula Islam mengajarkan bahwa manusia tidak bisa mengandalkan usaha, tanpa disertai tawakal. Manusia hanyalah hamba yang dikendalikan skenario Tuhan. Manusia juga tidak boleh hanya mengandalkan tawakal, tanpa disertai usaha, karena Tuhan juga tidak menurunkan hujan emas begitu saja. Lalu, optimalisasi peran usaha dan tawakal hanya bisa mantap apabila diiringi doa. Dengan berdoa, siapa saja menjadi lebih tenang menerima ketentuan Allah, positif atau negatif dalam pandangannya. Doa sekaligus menunjukkan ketidakmampuannya mencapai apa yang diinginkannya dalam berusaha dan bertawakal.
Kerelaan akan ketentuan yang sudah digariskan-Nya juga membuat seseorang mampu menerimanya dengan ikhlas. Terkait dengan ini, Nabi Muhammad pernah mewanti-wanti, "Siapa saja yang rela (akan ketentuan Allah), maka dia akan memperoleh kerelaan Allah. Sebaliknya, siapa saja yang marah (pada ketentuan Allah), maka dia akan mendapat murka Allah," (HR Al-Thabrani). Keyakinan bahwa Dia berlaku adil dan tidak ceroboh dalam menentukan takdir-Nya seperti ini, hanya bisa diperoleh bila seseorang berprasangka baik terhadap-Nya. Dalam salah satu hadis qudsi, Allah Swt. berfirman, “Aku ini bergantung dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku,� (HR Al-Bukhari). Itu berarti bila seseorang berprasangka positif pada Allah, maka positif juga takdir yang akan didapatkan. Namun, bila negatif prasangka negatif, maka takdir yang akan ditetapkan-Nysa juga akan negatif. Sikap berprasangka positif ini ditandai dengan mau bersabar melalui bencana dan rela menerima takdir sembari terus berusaha. Sikap seperti ini pasti akan menghantarkannya pada jalan keluar. Allah berfirman, “Bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu. Kamu berada dalam penglihatan-Ku,� (QS Al-Thur [52]: 48). Melalui Bencana dan Sikap PascabencanaSemua orang pasti tidak mengharapkan mendapat bencana, meskipun mereka tahu bencana itu penting dalam proses kemanusiaan, keberagaamaan, dan penghambaan. Namun sesuai sunatullah, tidak jarang sesuatu yang tidak diinginkan justru menjadi sesuatu yang banyak manfaatnya di kemudian hari. Sebaliknya, sesuatu yang menyenangkan justru banyak mendatangkan madarat di belakang hari. Bukankah banyak penyakit yang disebabkan oleh sesuatu yang sangat disukai, seperti daging, yang manis-manis, es, dan lain sebagainya? Sebaliknya, bukankah sebagian besar obat justru rasanya tidak sangat disukai? Inilah sunatullah yang sudah diabadikannya dalam ayat kauniyah di atas dan ayat qauliyah berikut: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal sesuatu itu sangat baik buat kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu sangat tidak baik buat kalian,� (QS Al-Baqarah [2]: 216).
Terkait dengan bencana ini, banyak cara orang dalam menyikapinya. Masyah (2007) menyebut beberapa variasi orang dalam menyikapi musibah, seperti reaktif, emosional, arif, kontemplatif, korektif, antisipatif, administratif, informatif, introspektif, inovatif, responsif, produktif, kontraproduktif, traumatis, histeris, koruptif, pasif, aktif, solider, altruistif, bahkan proaktif, atau hanya sekadar rekreatif. Semua sikap ini, menurutnya, berhubungan erat dengan kualitas orang yang bersangkutan.Saat bencana datang di menit-menit pertama, biasanya memang belum disadari dampak yang akan timbul setelahnya. Beberapa saat setelah bencana itu menimpa, barulah terpikirkan banyak hal yang mungkin terjadi di kemudian hari. Saat itulah biasanya seseorang mulai bersedih, menangis, dan berkeluh kesah. Pertanyaannya, apa salah seseorang menangis dan bersedih setelah mendapat bencana dalam pandangan Islam? Jawabnya, tidak, karena kedua hal itu manusiawi. Nabi Muhammad saja saat ditinggal putranya yang bernama Ibrahim pergi menghadap Sang Khalik, beliau juga bersedih dan bahkan menangis. Saat ditinggal istrinya yang pertama, Khadijah, dan pamannya yang selalu membela perjuangannya, Abu Thalib, Nabi Muhammad juga sangat terpukul. Beliau begitu bersedih hingga tahun itu dinamakan dengan ‘am al-huzn (tahun kesedihan).
Ketika ada seorang sahabat yang bertanya setelah melihat Nabi menangis atas kematian Ibrahim, putranya, “Apa Anda menangis? Bukankah Anda melarang kita menangis di saat seperti ini?� Apa jawab Nabi? “Aku hanya dilarang berteriak-teriak histeris. Mata ini tak kuasa menahan tetes air mata. Hati pun tak sanggup menahan sedih. Tapi, aku hanya mengatakan apa yang diridai Allah.�
Jawaban Nabi ini sekaligus memberi kunci menyikapi bencana. Karena, memang ternyata banyak yang salah sangka seolah-olah dilarang menangis dan bersedih saat mendapat bencana. Padahal, anggapan seperti itu tidak benar adanya. Memang, ada hadis Nabi yang menyatakan—kalau benar ini hadis—mayat akan disiksa lantaran teriakan histeris keluarganya. Hadis ini yang sering dijadikan alasan orang menyalahkan orang lain yang menangisi dan bersedih saat mendapat bencana seperti kematian. Namun, bila teliti melihat redaksi hadis itu, yang dilarang bukan menangis dan bersedih, tapi berteriak histeris. Tangapan Nabi atas pertanyaan sahabat di atas juga semakin meyakinkan kita semua bahwa menangis dan bersedih bukan suatu yang salah. Mengapa berteriak histeris dilarang? Berteriak histeris itu simbol keputusasaan, seolah-olah semuanya sudah berakhir. Dengan bersikap seperti itu, seolah-olah tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Biasanya ini dilakukan oleh orang yang mengidap sindrom Firaun. Ini juga biasa dilakukan orang-orang yang biasa mendramatisasi persoalan. Berteriak histeris juga merupakan reaksi berlebihan atas bencana yang menimpa. Ini juga melanggar asas proporsionalitas.
Seorang muslim harus menyadari bahwa dirinya milik Allah. Ia bahkan tidak mempunyai kekuatan sedikit pun menolak bencana yang menghampiri, meski itu sekecil titik sariawan yang menghiasi bagian mulutnya. Dengan kata lain, ia sesungguhnya tidak memiliki apa pun, bahkan atas apa yang melekat, apalagi hanya sekadar menempel di tubuhnyaa. Semua yang ada pada dirinya hanya semata-mata titipan ilahi, yang memang dipergunakan-Nya untuk menguji sejauh mana ia memanfaatkannya untuk kepentingan yang memang disukai-Nya. Karena sifatnya merupakan titipan, ia pasti tak sanggup menolak ketika Pemiliknya meminta kembali. Dan, yang mesti ddisadari dari awal bahwa semua ini pasti akan diminta-Nya kembali, bahkan nyawa yang mengalirkan nafas kehidupan ini juga tak akan sanggup ditolak ketika Dia memintanya.
Nah, apakah ketika satu demi satu atau semua yang sudah diberikan-Nya itu diambil, seseorang tidak punya harapan lagi? Tentu saja tidak. Ini sudah menjadi sunatullah (hukum alam) bahwa ketika ada yang datang pasti ada yang pergi. Bila ada yang hilang pasti akan ada ganti. Kesadaran akan sunatullah yang paling mendasar ini sebetulnya akan banyak membantu proses pemulihan pascabencana. Asalkan ini dipahami dengan arif dan sanggup dijalani proses demi proses yang harus dilalui sebagai bagian dari ketentuan Allah, tentu apa pun yang dialami, bahkan seberat apa pun, akan menjadi mudah saja, atau setidaknya tidak terlalu didramatisasi seolah dunia sudah berakhir.
Optimisme seperti ini yang tersembul dalam doa yang biasa dipanjatkan orang-orang saleh setelah mendapat bencana: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlifni khairan minhaâ€� (kita semua milik Allah dan kita pasti akan kembali pada-Nya. Ya Allah, selamatkan aku dalam menghadapi musibah ini dan berikan aku ganti yang lebih baik daripada sesuatu yang sudah pergi).
Doa ini memberikan penyadaran luar biasa bahwa yang memiliki semua ini, termasuk hidup ini dan seluruh perangkat pendukungnya, adalah Allah. Sesuai dengan mekanisme dan manajemen ilahi semenjak zaman azali, semua yang menjadi milik-Nya pasti akan kembali pada-Nya, satu demi satu atau sekaligus, perlahan atau langsung mendadak. Seseorang hanya bisa berharap diberi keselamatan dalam menghadapi musibah itu, baik keselamatan ragawi maupun keselamatan rohani, baik kesalamatan imani maupun kesalamatan materi. Harapan ini pun juga dibarengi dengan optimisme bahwa Allah akan mengirimkan ganti yang lebih baik daripada milik-Nya yang sudah diambil-Nya sebelum bencana.
Kunci lain yang bisa mempercepat pemulihan pascamusibah dan pascamasalah ialah menata diri untuk tetap berada di jalan-Nya. Dengan kata lain, seseorang harus tetap konsisten menjalankan apa yang menjadi kewajiban dan menjauhi apa yang bukan menjadi hak sebagai orang yang beragama. Inilah yang dalam bahasa agama biasa disebut takwa. Kata ini memang terlalu populer, tetapi implementasinya tidak mengakar dalam kehidupan keseharian. Padahal, ini sesungguhnya yang mampu menjamin kesempurnaan keberagamaan seseorang. Tidak hanya itu, sikap ini juga mampu mengantarkan seseorang pada kesempurnaan kemanusiaan. Sikap ini pun sangat bermanfaat untuk mengembalikan dan memulihkan sisi kemanusiaan yang terkoyak pada saat mengalami bencana. Dengan memiliki sikap ini, kehambaan dan penghambaan tidak labil. Kalaupun berfluktuasi, bukan fluktuasi yang mengantarkannya pada sisi negatif. Ia stabil meski digoncang apa pun.
Allah telah menjamin akan memberikan jalan keluar atas semua kesulitan hidup bila seseorang memiliki sikap ini. Dia juga berjanji akan selalu memberi rezeki dari pintu yang tak terduga pada orang yang memiliki sikap ini. Apalagi bila mau menambahkan sikap ini dengan kepasrahan yang disertai usaha dan doa, maka yakinlah Dia pula yang akan mencukupi apa pun yang kita butuhkan. “Siapa saja yang bertakwa pada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar dan membukakan pintu rezeki dari tempat yang tak terduga. Siapa yang pasrah kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupi kebutuhannya,� (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3). “Siapa saja yang bertakwa pada Allah, niscaya Allah memudahkan segala urusannya,� (QS Ath-Thalaq [65]: 4). Dan, yang terpenting, jaminan dan janji Allah tidak pernah diingkari-Nya. Biasanya hanya soal waktu saja.
"Setiap ada kesulitan pasti ada kelapangan," (QS Al-Insyirah [94]: 5). Setiap habis hujan deras pasti mentari bersinar lebih indah. Setiap kemacetan separah apa pun, pasti setelahnya ada kelengangan yang menjadi penghibur bagi pengendara yang melaluinya. Seperti sudah disinggung sebelumnya, manusia memang tidak bisa menolak bencana. Ia hanya bisa meminimalisasinya. Itu pun jika Allah berkehendak. Karena, semua yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Nah, ketika kehendak-Nya itu sudah terlaksana, yakinilah bahwa semua sudah diukurnya. Dia juga pasti adil memperlakukan ketentuan-Nya. Kehendak-Nya pun pasti diiringi kehendak-Nya yang lain, yang meskipun mulanya terlihat menyusahkan, tetapi pada akhirnya akan menyenangkan. Dia tidak akan memberikan bencana melebihi kadar yang sanggup ditanggung. “Allah pasti melaksanakan semua yang dikehendaki-Nya. Allah juga telah menentukan kadar segala sesuatu,� (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3-). Hikmah di Balik BencanaKesadaran seperti itu juga harus dibarengi dengan optomisme bahwa Allah yang memberi bencana itu telah menyiapkan hikmah di balik b